Tuesday, December 5, 2006

Hati Hati Minum Obat Pilek

dr. Iwan Darmansjah, SpFK

Suatu penelitian retrospektif yang dilaporkan di New England Journal of Medicine (NEJM) baru
saja diumumkan lewat internet mendahului publikasi resmi. Sudah tentu karena makalah berjudul
“Phenylpropanolamine and the Risk of Hemorrhagic Stroke” itu dianggap penting untuk segera
disebarluaskan.
Fenilpropanolamin (FPA) memang banyak dipakai dalam obat pilek dan penghilang nafsu makan,
meski sejak 20 tahun silam dilaporkan adanya kasus perdarahan di selaput otak atau di dalam
otak setelah makan FPA. Ia merupakan salah satu komponen simpatomimetika (berefek serupa
perangsangan saraf simpatik) yang digunakan dalam obat pilek. Menurut urutan efektivitasnya,
komponen sejenis dalam obat pilek adalah efedrin, pseudoefedrin, FPA, dan etilefrin. Obat pilek
berbahan komponen tersebut bekerja dengan menyempitkan pembuluh darah di selaput lendir
hidung, sehingga pembentukan lendir berkurang. Di samping itu masih ada golongan
antihistamin yang mempunyai efek lemah untuk membantu meringankan gejala melalui efek
antialergi, yang sering menyertai pilek Biasanya dua komponen ini dicampur dalam obat pilek.
Komponen lain, jika ada, merupakan tambahan yang berlebihan, kecuali bila obat tersebut
memang diindikasikan pula untuk gejala lain, misalkan demam, sehingga ditambahkan analgetik
seperti parasetamol.
Sebenarnya, kalau hanya untuk pilek, dosis FPA cukup 12,5 - 25 mg per tablet, per kali.
Sayangnya, FPA banyak disalahgunakan untuk menguruskan badan. Sedangkan untuk
mengurangi nafsu makan dibutuhkan dosis sebesar 75 mg atau lebih. Padahal justru pemakaian
dosis besar telah dihubungkan dengan kejadian stroke hemoragik (berdarah), terutama pada
wanita (umumnya wanita muda yang ingin kurus). Risiko kejadian pada wanita ini mencapai
16.58 kali lebih sering dibandingkan dengan kejadian stroke hemoragik pada orang yang tidak
makan FPA. Sudah tentu risiko ini sangat tinggi, malahan lebih besar ketimbang risiko kejadian
kanker paru-paru oleh rokok (+ 11.0). Karena pria jarang makan FPA untuk menguruskan diri,
mungkin inilah penyebabnya angka risiko untuk wanita lebih besar dibandingkan dengan pria.
FPA sudah lama saya kenal sebagai obat pilek yang kurang baik, bukan saja karena
efektivitasnya lebih rendah, tetapi juga karena ia dapat meninggikan tekanan darah bila dipakai
pada dosis 25 mg atau lebih. Di negeri kita, sekitar 10 tahun lalu, karena masalah efek
sampingnya sudah dikenal bahkan waktu itu (hanya buktinya kurang solid)
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (POM), Depkes RI, memberlakukan
pembatasan dosis FPA dalam obat pilek hingga 15 mg per tablet. Namun, entah mengapa banyak
pabrik kemudian mendapat izin menggunakan FPA dalam dosis 25 mg. Padahal, bukankah hal ini
dapat menambah risiko perdarahan di otak ? Itu sebabnya saya sangat setuju bila sebagai obat
obesitas FPA sebaiknya dilarang, sedangkan sebagai obat pilek dibatasi dosisnya. Sementara itu
etilefrin sifatnya juga seperti FPA dan kurang baik untuk pilek, sehingga perlu pengaturan baru
oleh Ditjen POM. Tinggal efedrin dan pseudoefedrin yang cocok untuk obat pilek, karena dalam
dosis kecil pun efektif, juga tidak menaikkan tekanan darah atau denyut jantung secara
signifikan. Di antara kedua jenis komponen ini, sebenarnya efedrinlah yang lebih baik. Sayang
sekali industri obat cenderung tidak menggunakannya, meski efektivitasnya unggul, semata-mata
karena margin keuntungannya lebih rendah (fakta ini telah saya konfirmasikan dengan produsen
obat pilek terbesar di AS, yang juga menggunakan FPA, dan diiyakan). Betapa pun, baik efedrin
maupun pseudoefedrin dalam obat flu perlu dibatasi dosisnya.
Kini bagaimana kita sebagai konsumen mesti bersikap ? Saya kira ya jelas, pilihlah yang
mengandung efedrin atau pseudoefedrin saja, dengan dosis kecil. Bila masih mau pakai FPA, ya
juga dosisnya tidak lebih dari 15 mg/tablet saja, dan tentu jangan makan dua tablet sekaligus.
Obat menguruskan badan janganlah dimakan sendiri tanpa petunjuk dokter. TAMBAHAN: Obat
pilek untuk bayi dan anak terlupakan untuk diatur, rupanya ini juga mengandung FPA terlalu
tinggi, malahan ada juga yang mengandung phenylephrine, yang efek sampingnya banyak.
INTISARI,2001(updated Sep 2005)

0 komentar:

Post a Comment